October 22, 2019
DetikHealth

Intip Batik WDrupadi yang Klasik, Anggun, dan Sporty

BANDUNG,  Wisni Indarto (38) melestarikan batik dengan cara yang unik. Ia mengenakan atasan kutu baru, kain, dan batik setiap hari selama tujuh tahun terakhir.

Caranya ini mengundang banyak perhatian. Kutu baru dan batik yang dulu terkesan tua dan kolot, berubah di tangan Wisni.

Hal itu bisa dilihat dari berbagai produk WDrupadi yang dirancangnya. Lewat produknya itu, ia menggabungkan unsur klasik, anggun, dan sporty atau biasa disebut KAS.

“Saya ingin memperkenalkan kebaya ke generasi muda (bahwa) kebaya bisa digunakan sehari-hari seperti zaman dulu,” ujar Wisni saat dihubungi detik.biz, Rabu (2/10/2019).

Bedanya, kebaya dan kain batik yang ia buat sekarang dibuat dengan gaya kekinian. Misalnya kutu baru motif bunga berwarna biru ia padupadankan dengan rok kain merah selutut yang diikat dengan santai.

Tampilannya terlihat modis dengan sneakers putih, jam tangan, dan tas selempang kecil berwarna merah yang bermotif tradisional.

Wisni Indarto selama tujuh tahun terakhir mengenakan kutu baru dan batik setiap harinya dalam segala situasi dan suasana. Dok WISNI INDARTO Wisni Indarto selama tujuh tahun terakhir mengenakan kutu baru dan batik setiap harinya dalam segala situasi dan suasana.

Kesan santai, kasual, menarik, dan kekinian tampak dari penampilannya. Dengan pakaian ini, ia bisa dengan leluasa pergi kemanapun baik ke mall atau pesta sekalipun.

Keanggunan juga diperlihatkan Wisni saat ia mengenakan kutu baru berwarna putih dengan balutan kain panjang berwarna merah. Dengan high heels yang ia kenakan, ia tampak begitu mempesona.

“Untuk kain saya menggunakan sifon, sama dengan kebaya yang dikenakan nenek-nenek kita zaman dulu,” ucap perempuan kelahiran Sukabumi, 23 Mei 1981 ini mengungkapkan.

Kain sifon, sambung Wisni, terbilang cocok untuk iklim Indonesia. Meski tidak terlalu menyerap keringat, sifon terasa ringan, enak dipakai, dan nyaman di segala acara.

Agar kutu baru dan batik bisa digunakan dalam segala suasana, ia biasanya memadupadankan dari segi warna. Untuk siang hari, ia biasanya mengenakan warna terang, sedangkan malam mengenakan warna gelap.

“Perhatikan juga bawahan kain. Kalau acara resmi, biasanya pakai motif klasik. Namun untuk kasual, gunakan kain kontemporer,” imbuhnya.

Saat ini, ia tengah mengembangkan batik masa kini. Sudah ada 10 motif WDrupadi seperti penari bali, penari jawa, mbok jamu, dan lainnya. Biasanya motif tersebut digabungkan dengan pakemnya batik seperti kawung dan parang.

“Batik yang digunakan tidak cenderung ke daerah mana. Tapi saya menggabungkan batik pesisir dengan klasik. Pesisir itu seperti Pekalongan, klasik itu daerah Jawa Tengah,” ungkapnya.

WDrupadi

Label WDrupadi sendiri terinspirasi dari salah satu tokoh pewayangan, Dewi Drupadi yang kemudian disingkat menjadi “WDrupadi”.

Dewi Drupadi memiliki paras wajah cantik, berhidung mancung, bermuka tenang dan selalu menunduk. Ia memiliki sifat dan karakter baik, mulai dari luhur budinya, bijaksana, sabar, teliti, setia, dan bersahaja.

Dewi Drupadi juga digambarkan seorang tokoh yang tidak pernah memakai perhiasan emas atau permata apapun. Dalam segala hal Dewi Drupadi terkenal sederhana.

View this post on Instagram

Berbahagialah hari ini karena hari esok mempunyai kesusahannya sendiri. Terimakasih sahabat yang telah berjumpa di JCC Senayan Hall Cendrawasih. Hari ini kami masih ada untuk melayani sahabat semua..yuks ke JCC #kutubaru#lurik

A post shared by Saung Batik Wdrupadi (Wisni) (@saung_batik_wdrupadi) on Sep 28, 2019 at 8:29pm PDT

Dari gambaran itu, Wisni berharap bisa menghasilkan karya-karya yang dapat membawa sifat dan karakter baik bagi siapapun yang mengenakan karya WDrupadi.

“Karya-karya yang WDrupadi hasilkan memiliki benang merah dengan tag line KAS, yakni klasik, anggun, sporty,” imbuhnya.

Wisni menjelaskan tagline dari karyanya. Klasik itu tak lekang oleh waktu. Sedangkan perempuan baiknya memiliki tutur kata, perbuatan, dan penampilan yang anggun.

Kemudian sporty identik dengan sportivitas, kerja keras , perjuangan dan semangat untuk menjadi pemenang.

“Batik dan kutubaru WDrupadi dikemas dalam gaya masa kini dengan sentuhan sporty, membalut tubuh perempuan Indonesia yang tak kan lekang dimakan waktu menguatkan jadi diri nan anggun sebagai perempuan Indonesia,” tuturnya.

Saat ini WDrupadi dipasarkan secara online dan offline. Setiap bulan ia bisa mengantongi omzet Rp 45 juta-50 juta.

“Untuk kutu baru saya jual Rp 325.000-425.000. Untuk rok kain saya jual Rp 395.000,” ucapnya.

Pemesannya sendiri dari berbagai daerah di Indonesia, Malaysia, Singapura, Australia, dan lainnya.

Lewat WDrupadi, ia berharap pendahulu bangsa Indonesia bangga pada generasi penerusnya yang membalut tubuhnya dengan busana khas Indonesia sebagai identitas bangsa.

SUMBER : [WWW.KOMPAS.COM]

Leave a Reply