October 22, 2019
DetikNews

“Kakakku Papua”, Gagasan Nusantara dari Teman Tuli Teater 7

Matahari bersinar dan menari-nari di panggung Teater Kecil Taman Ismail Marzuki, Cikini, Menteng, Jakarta Pusat.

Langkah-langkah kecil yang halus berhasil meredam suara panggung yang terbuat dari kayu, meninggalkan keindahan yang dibungkus kesunyian. Tanpa ucap, tetapi gerak tubuh; anak-anak Tuli memulai aksinya dalam kreasi pertunjukkan teatrikal bertajuk “ Papua Kakakku” (14/9/2019).

Salah satu pemain beraksi lewat ekspresi dan bahasa isyarat. Berbeda dengan pementasan pertama Teater 7 yang dominan diperankan pemain dewasa, kali ini giliran anak-anak yang beraksi.

Salah satunya Fudhail Abdillah Alkaff, seorang aktor cilik berusia 11 tahun yang ikut berlaga di bawah sorot lampu malam itu. Akrab dipanggil Dillah, ia bercerita kepada Ibunya bahwa terdapat banyak pembelajaran didapatkan ketika mengikuti Teater 7.

“Dillah pernah cerita bahwa dia belajar dance, belajar ekspresi wajah, belajar bahasa isyarat,” imbuh Nisa Imamy, Ibu dari Dillah. Nisa mengaku semenjak anak sulungnya bergabung dalam Teater 7, bakatnya di dunia seni sandiwara semakin berkembang dan tersalurkan.

Gagasan nusantara Teman Tuli

Ray Sahetapy, pendiri Teater 7, turut memberikan kata sambutan kepada para hadirin di rangkaian pembukaan pementasan “Papua Kakakku”.

“Salam Nusantara!” teriak Ray Sahetapy, pendiri Teater 7.

“Sejahtera!” balas penonton yang hadir dan menjadi saksi perwujudan karya kedua sejak teater ini berdiri pada 2018.

Teater 7 merupakan Teater Tuli pertama di Jakarta dan memiliki visi mengembangkan gagasan-gagasan Nusantara.

Ray Sahetapy memotivasi aktor dan aktris tuli untuk berani menciptakan gagasan yang orisinal. Dari persiapan sampai hari pementasan “Papua Kakakku”, hampir setiap gagasan dan ide yang muncul adalah dari teman-teman tuli.

Supaya Teman Tuli itu bisa memasukkan gagasan-gagasan yang dapat dipahami oleh
Teman Dengar,” ucapnya ketika diwawancarai Kompas.com setelah pementasan kedua selesai.

“Oleh karena itu, karya ini yang seluruhnya dari Teman Tuli. Sutradara, penulis naskah,
pemain; Tuli semua!”

Para pemain berlakon dalam pementasan ini adalah anak-anak yang masih berada di Sekolah Dasar sampai Sekolah Menengah Atas atau Kejuruan. Dengan ragam karakter dan latar belakang pemain, tantangan yang muncul juga beragam.

Sama seperti tutur dari produser terlibat, mereka mengaku terdapat beberapa rintangan ketika pelatihan berlangsung.

“Lebih kepada bagaimana cara mereka fokus,” ujar Kania Widjajadi yang terlibat sebagai salah
satu produser. “Memberitahu mereka kita akan membuat pentas, nih, judulnya Papua Kakakku. Jadi mereka ga boleh main-main, lari-larian, dan yang lainnya,” ujarnya.

Kerja sama yang tulus

Tanpa ucap, hanya gerak tubuh, anak-anak tuli memulai aksinya dalam kreasi pertunjukkan teatrikal dari Teater 7 bertajuk ?Papua Kakakku? (14/9/2019) Teater Kecil Taman Ismail Marzuki, Cikini, Menteng, Jakarta.DOK. KOMPAS.com/EVELYN KUSUMA Tanpa ucap, hanya gerak tubuh, anak-anak tuli memulai aksinya dalam kreasi pertunjukkan teatrikal dari Teater 7 bertajuk ?Papua Kakakku? (14/9/2019) Teater Kecil Taman Ismail Marzuki, Cikini, Menteng, Jakarta.

Kania menceritakan perspektifnya mengenai proses yang dilalui teman-teman Tuli. Menurutnya, Tuli belum diperhatikan penuh oleh pemerintah dan masyarakat; terutama anak-anak.

Ia menganggap mereka masih “dikurung” dan tidak dibiarkan bersosialisasi dan berkreasi di luar rumah.

Melihat persoalan ini, dirinya sebagai produser tidak ingin tinggal diam. “Sebagai produser turut mencoba untuk mengingatkan orang tua dan mengubah cara pandang mereka tentang anak-anak Tuli, supaya anak-anaknya dapat mengembangkan kreativitasnya, salah satunya berkaryanya lewat teater,” lanjutnya.

Tantangan lain disebutkan oleh Helga Theresia Manullang, produser eksekutif pementasan “Papua Kakakku”.

Tantangan yang dihadapinya adalah waktu dan kepentingan. Ia menceritakan tentang kesulitan membagi waktu.

“Semua panitia punya kegiatan masing-masing,” jelasnya Helga. “Saling sabar dan memahami keadaan teman-teman panitia yang terkadang koordinasinya lambat karena punya kesibukan
masing-masing.”

Namun di antara banyaknya bentrok, Helga merasakan adanya kerja sama yang tulus. Dirinya salut kepada seluruh pihak yang terlibat; mulai dari pemain, Ibu-ibu dari pemain, panitia, Juru Bahasa Isyarat, sampai ke Sutradara, dan masih banyak lagi.

“Hati dan tenaganya luar biasa sampai sulitnya membagi waktu bukan penghalang pementasan ini,” terusnya.

Tuli dan penerimaan Keluarga

Ray Sahetapy pendiri Teater 7 usai pertunjukkan teatrikal ?Papua Kakakku? (14/9/2019) di Teater Kecil Taman Ismail Marzuki, Cikini, Menteng, Jakarta.DOK. KOMPAS,.com/EVELYN KUSUMA Ray Sahetapy pendiri Teater 7 usai pertunjukkan teatrikal ?Papua Kakakku? (14/9/2019) di Teater Kecil Taman Ismail Marzuki, Cikini, Menteng, Jakarta.

Sebelum masuk ke dalam ruangan teater, para hadirin disuguhkan pameran karya kecil berisikan lukisan dan gambar dari para pemain; bukan hanya itu, terdapat juga pesan pendek dari orangtua mereka.

Kriya dan kata yang terpajang bukan tanpa sebab, Teater 7 ingin memberikan sekilas cerita yang dialami oleh para pemain dan juga keluarganya selama masa persiapan.

Teater 7 mengangkat budaya Papua sebagai latar cerita pementasan kali ini, dilengkapi dengan pakaian dan aksesorisnya.

Cerita tentang perjuangan, asa, harapan, motivasi, kegagalan, bahkan keterpurukan diilustrasikan ke dalam karya. Terlihat di awal, banyak keraguan yang masih muncul pada sebagian orangtua dan juga pemain.

“Ada sebagian orang tua yang dulunya merasa malu punya anak tuli,” tutur Nisa kembali. “Tapi kami para orangtua pun belajar dan bisa melihat dunia anak-anak kami itu tidak seburuk yang
kami bayangkan dulu,” tambahnya.

Menanggapi pergumulan ini, Helga dan Kania juga memiliki pandangan sama. Kedua produser perempuan ini menyatakan dukungan dari keluarga itu penting adanya.

Helga merasa masih banyak orang tua malu punya anak tuli, tidak bangga, menyembunyikan, tidak mendukung hal-hal yang anaknya sukai, bahkan merasa anaknya tidak bisa melakukan apa-apa karena tuli.

“Kami ingin membangkitkan kembali harapan dan semangat teman-teman Tuli, adik-adik Tuli,
orangtua yang punya anak tuli,” tukas Helga. “Tuli itu bisa. Bisa berkarya,” tegasnya.

Pernyataan serupa datang dari Kania, “Mereka sama seperti anak-anak yang lain, namun cara
berkaryanya yang berbeda.”

SUMBER [WWW.KOMPAS.COM]

Leave a Reply